Membaca novel karya Habiburrahman El-Shirazy ini memang benar-benar mengasyikkan. Membacanya berulang-ulang pun tidak membuat bosan. Soalnya tiap kali membaca ada saja tema khusus yang menarik untuk diikuti. Misalnya saja kali pertama fokusnya ke setting tempat di Mesir dan budaya masyarakatnya. Lantas pada saat membaca yang kedua kalinya fokus diarahkan ke dialog dalam bahasa Arab dan Jermannya. Lalu nuansa romannya, dalil-dalilnya, buku rujukannya, penggalan-penggalan syairnya, dan lainnya. Khusus untuk buku rujukannya, saya sampai menyempatkan diri untuk membaca, tapi belum selesai.
Ada sebagian orang yang berkomentar tokoh Fahri terlalu sempurna, ada juga yang bilang ini sih novelnya cowo. Bagi saya, contoh itu justru harus sempurna, atau setidaknya mendekati. Bagi yang merasa novel ini adalah novelnya cowo, sekarang sudah terbit sebuah novel yang tipikal seperti Ayat-Ayat Cinta, hanya saja tokoh utamanya perempuan, saya lupa judulnya, tapi bukunya sudah masuk dalam daftar buruan.
Mungkin agak dibilang cengeng ya, tapi setiap kali membaca pada beberapa bagian rasanya ada yang bikin sesak dan mata kerap berkaca-kaca, padahal sudah baca berulang kali. Ini bukti kalo saya memang masih punya perasaan (waktu nulis kalimat yang terakhir ini, saya ditonjokin adik sambil teriak “Narsis! Narsis!”). Ngga selalu sih, cuma kadang saja.
Mungkin bagi yang belum bertemu kang Abik (panggilan akrab Habiburrahman) akan berpendapat hiperbolik tentang novelis ini. Alhamdulillah, ketika mendapat kesempatan menjemput beliau untuk menjadi pembicara dalam sebuah seminar di pondok dulu, saya sempat berkenalan, makan bersama di warung padang, dan ngobrol di mobil yang jalannya kurang lancar (sopirnya sih!). Beliau justru seperti orang biasa yang mungkin kalau jalan-jalan di pasar sambil menenteng belanjaan dapur saya malah ngga kenal (waktu ngejemput aja hampir salah orang). Tapi justru itulah yang membuat saya menaruh kagum pada beliau (sekarang saja sudah lupa lagi wajahnya). Dari seorang kang Abik, keluar novel-novel yang bagus untuk dibaca. Orang boleh tidak mengenal sosoknya, tapi mengenal baik karyanya.
Persis seperti bu Pipiet Senja. Novelis ini benar-benar subur dengan karya. Tapi bagi yang pernah bertemu pasti bertambah kagum, seorang pengidap Thalasemia berpenampilan seadanya itu sanggup menulis lebih dari 75 buku. Penampilan memang bukan segalanya. Kalau saja saya bertemu beliau di pasar (lagi) pasti saya tidak kenal.
Di antara beberapa kesan, yang saya dapat dari novel Ayat-Ayat Cinta ini sebenarnya perasaan kesal. Soalnya novel yang saya baca sendiri sampai hari ini sebenarnya punya adik saya dan bukan milik saya. Novel yang resmi dan sah secara hukum milik saya entah kemana, berpindah tangan dari satu teman ke teman yang lainnya hingga tersesat. Jadinya setiap kali akan membaca novel ini, saya jadi teringat sudah sampai benua mana novel milik saya (wooooi, balikin dong! Kalo yang minjem kebetulan baca artikel ini balikin yaaa).
Buat Ami, my beloved sister (dilarang keras ge er), terimakasih untuk tidak membawa novel ini ke Bogor sana, jadi kakakmu yang rada narsis ini bisa puas membaca di kala suntuk menyapa dan gundah bersua. That’s all.